Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Seri Iwan dan Keluarga Kebunnya #7 Hujan Turun

Hujan turun. Membasahi apapun yang di bawahnya. Termasuk kebun Iwan. Dedaunan basah, batang basah, buah basah, tanah juga basah. Tidak ketinggalan, baliho para caleg dan bakal calon Bupati itu juga kebagian air hujan. Sebentar lagi akan ada pemilihan kepala daerah di kabupaten ini. Maka berbondong-bondonglah para penduduk untuk menjadi bupati. Dengan hujan ini, maka berakhirlah kemarau yang sudah seminggu melanda desa itu. Hujan sudah memberikan selingan kepada musim kemarau bulan juli itu.

Seri Iwan dan Keluarga Kebunnya #6 Monolog Udara

Udara
 
Akulah keisitimewaan yang dipunyai oleh planet yang dinamai bumi ini. Kata manusia, aku adalah sumber utama adanya kehidupan disini. Tanpa udara mustahil ada penghuni bumi. Aku ditemukan dimana-mana tetapi bukan dimana saja. Aku tidak ada di dalam kaca, di dalam besi dan di dalam batu akik. Aku ada di air, di tanah dan dimana-mana.


Seri Iwan dan Keluarga Kebunnya #5 Monolog Air

Air



Foto dari www.dreamstime.com

Manusia membatasiku sebagai H2O. Tapi tenang saja itu hanya segelintir saja. Bagi mereka yang lain aku adalah sumber kehidupan. Dari kalangan itu juga mengatakan bahwa 90% tubuh mereka terdiri dari air. Bagi korban Tsunami di Aceh, Jepang, Srilanka dan negara yang pernah mengalami : aku adalah bencana. Bagi umat Islam yang akan melaksanakan kewajiban solat, aku adalah zat yang mensucikan. Bagi seorang pengelana di gurun pasir aku adalah pelepas dahaga. Bagi sebatang pohon di kebun itu : aku adalah kehidupan.

Seri Iwan dan Keluarga Kebunnya #4 Monolog Tanah

Foto dari www.web.unbc.ca



Namaku tanah, aku tinggal dimana-mana. Rasanya aku bukanlah subjek yang punya tempat tinggal. justru akulah tempat tinggal itu sendiri : bagi seluruh makhluk yang masih berkesadaran maupun tidak. Meski tanah tidak berkesadaran, ia menjadi penopang atau penyangga juga. Biar segala makhluk itu tidak terjerumus ke dalam panasnya magma di dalam inti bumi. Rasanya aku adalah kehidupan itu sendiri. Dimana cacing dapat bersembunyi dan berkembang biak, tempat padi tumbuh,pohon tumbuh, manusia bikin rumah dan segala makhluk hidup.

Seri Iwan dan Keluarga Kebunnya #3 Monolog Pohon Kakao

Pohon Kakao





Foto dari www.disbun.sulselprov.go.id

Aku langsung dibibit dari tangan Ayah Iwan. Mulai dari biji basah yang dijemur sampai dimasukkan dalam polybag, disemai dan kemudian ditanam di tanah ini. Menggantikan pohon jeruk yang sudah habis masanya. Aku mulai merasai lingkungan yang beda dengan polybag, tempat tinggalku sebelumnya. Lebih segar di sana. Mungkin hanya perasaanku saja.


Seri Iwan dan Keluarga Kebunnya #2 Monolog Pohon Jeruk

Suatu malam Iwan bermimpi. Ia bisa mendengarkan suara tumbuh-tumbuhan, air, tanah dan segala yang ada di kebunnya.






Foto dari www.lalatbuahjeruk.blogspot.com

Pohon Jeruk

Aku pokok kayu yang hidup. Berakar, berdaun dan berbuah. Ditanam oleh ayah Iwan di tanah mereka ini. Beberapa waktu lalu tinggiku cuma sepuluh senti. Sekarang sudah lebih tinggi daripada orang yang menanamku. Dulu tubuhku masih gampang bengkok namun sekarang sudah kokoh. Daunku juga makin hijau, tubuhku makin kuat. Sebentar lagi naluriku untuk mempertahankan kelangsungan hidup akan membuahkan buah. Aku punya naluri yang sama dengan manusia. Memperoleh keturunan. Maka dari itu aku sedang mengumpulkan energi untuk melakukan proses itu.