Tampilkan postingan dengan label Catatan Masa Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Masa Hidup. Tampilkan semua postingan

List 5! Film Cinta-cinta'an yang Mungkin Bisa Menjadikan Malam-Malam Minggu Kamu Lebih Inspiratif


Di tengah merebaknya marabahaya cinta, maka dari itu saya dengan kesadaran penuh mencoba membuat list ala ala kepada siapapun yang sedang mengapa. Silakan tanpa wa wi bu ke papan skor :

dipilih, dipilih, dipilih

1 (1931) City Lights by Charlie Chaplin
2 (1954) Rear Window by  Alfred Hitchcock
3 (1958) Vertigo by Alfred Hitchcock
4 (1959) Shadows by John Cassavetes
5 (1962) Lolita by Stanley Kubrick
6 (1977) Annie Hall by Woody Allen
7 (1984) Amadeus by Miloš Forman
8 (1984) Kerikil-Kerikil Tajam by Sjumandjaja
9 (1984) Paris, Texas by Wim Wenders
10 (1990) Days of Being Wild by Wong Kar-wai
11 (1993) Groundhog Day by Harold Ramis
12 (1994) Chunking Express by Wong Kar-wai
13 (1994) Forest Gump by Robert Zemeckis
14 (1997) The Eel by Shōhei Imamura
15 (1997) Titanic by James Cameron
16 (1998) Lola rennt by Tom Tykwer
17 (1998) Rushmore by Wes Anderson
18 (1998) Shakespeare in Love by John Madden
19 (1998) What Dreams May Come by Vincent Ward
20 (1999) Being John Malkovich
21 (1999) Eyes Wide Shut by Stanley Kubrick
22 (1999) Fly Me to Polaris by Jingle Ma
23 (1999) Happy End by Jung Ji-woo
24 (1999) Peppermint Candy by Lee Chang-dong
25 (2000) Cast Away by Robert Zemeckis
26 (2000) Il Mare by Lee Hyun-seung
27 (2000) In the Mood for Love by Wong Kar-wai
28 (2000) O Brother, Where Art Thou? By Ethan Coen, Joel Coen
29 (2000) The Isle by Kim Ki-duk
30 (2000) Virgin Stripped Bare by Her Bachelors by Hong Sang-soo
31 (2001) Address Unknown by Kim Ki-duk
32 (2001) Amélie by Jean-Pierre Jeunet
33 (2001) Bad Guy by by Kim Ki-duk
34 (2001) My Sassy Girl by Kwak Jae-yong 
35 (2001) One Fine Spring Day by Heo Jin-ho
36 (2001)Failan by Song Hae-sung
37 (2002) Balzac and the Little Chinese Seamstress by Dai Sijie
38 (2002) Oasis by Lee Chang-dong
39 (2002) The Count of Monte Cristo by Kevin Reynolds
40 (2003) Cold Mountain by Anthony Minghella
41 (2003) Love Actually by  Richard Curtis
42 (2003) The Classic by Kwak Jae-yong
43 (2003) The Room by Tommy Wiseau
44 (2004) 2046 by Wong Kar-wai
45 (2004) 2046 by Wong Kar-wai
46 (2004) 3 Iron by Kim Ki-duk
47 (2004) A Moment to Remember by John H. Lee
48 (2004) Eternal Sunshine of the Spotless Mind by  Michel Gondry
49 (2004) I Heart Huckabees by David O. Russell
50 (2004) Modigliani by Mick Davis
51 (2004) Samaritan Girl by Kim Ki-duk
52 (2004) The Notebook by Nick Cassavetes
53 (2004) Troy by Wolfgang Petersen
54 (2004) Windstruck by Kwak Jae-yong
55 (2004) Woman is the Future of Man by Hong Sang-soo
56 (2005) A Bittersweet Life by Kim Jee-woon
57 (2005) Broken Flowers by Jim Jarmusch
58 (2005) Sad Movie by Kwon Jong-kwan
59 (2005) The Bow by Kim Ki-duk
60 (2006) Heavenly Forest by Takehiko Shinjou
61 (2006) I'm Cyborg but That's OK by Park Chan-wook
62 (2006) The Fountain by Darren Aronofsky
63 (2006) The Illusionist by Neil Burger
64 (2006) The Science of Sleep by Michel Gondry
65 (2006) Time by Kim Ki-duk
66 (2006) Wristcutters: A Love Story by Goran Dukić
67 (2007) Atonement by Joe Wright
68 (2007) August Rush by Kirsten Sheridan
69 (2007) Juno by Jason Reitman
70 (2007) Lars and the Real Girl by Craig Gillespie
71 (2007) The Diving Bell and the Butterfly by Julian Schnabel
72 (2008) Dream by Kim Ki-duk
73 (2008) Fiksi. by Mouly Surya
74 (2008) Love Exposure by Sion Sono
75 (2008) Two Lovers by James Gray
76 (2008) Yes Man by Peyton Reed
77 (2008) Zack and Miri Make a Porno by Kevin Smith
78 (2009) 500 Days of Summer by Marc Webb
79 (2009) Air Doll by Hirokazu Koreeda
80 (2009) Cast Away on the Moon by Lee Hae-jun
81 (2010) Hari untuk Amanda by Angga Dwimas Sasongko
82 (2010) Love and Other Drugs by Edward Zwick
83 (2011) Friends with Benefits by Will Gluck
84 (2011) Just Go With It by Dennis Dugan
85 (2011) Two Strings Attached by Ivan Reitman
86 (2011) You Are the Apple of My Eye by Giddens Ko
87 (2012) A Muse by Jung Ji-woo
88 (2012) Great Expectations by Mike Newell
89 (2012) Moonrise Kingdom by Wes Anderson
90 (2012) Perahu Kertas 1 by Hanung Bramantyo
91 (2012) Silver Linings Playbook by David O. Russell
92 (2012) Ted by Seth MacFarlane
93 (2012) Upside Down by Juan Diego Solanas
94 (2013) Don Jon by Joseph Gordon-Levitt
95 (2013) Her by Spike Jonze
96 (2013) Last Love by Sandra Nettelbeck
97 (2013) Only Lovers Left Alive by Jim Jarmusch 
98 (2013) Our Sunhi by Hong Sang-soo
99 (2013) Perahu kertas 2 by Hanung Bramantyo
100 (2013) Upstream Color by Shane Carruth
101 (2013) Very Ordinary Couple by Roh Deok
102 (2013) What They Don't Talk About When They Talk About Love by Mouly Surya
103 (2014 )Sea Fog by Sim Sung-bo
104 (2014) A Girl at My Door by July Jung
105 (2014) Selamat Pagi, Malam by Lucky Kuswandi
106 (2014) Wood Job! by Shinobu Yaguchi
107 (2015) A Copy of My Mind by Joko Anwar
108 (2015) A Man Called Ove by Hannes Holm
109 (2015) Lady Chatterley's Love by Jed Mercurio
110 (2015) Negeri Van Oranje by Endri Pelita
111 (2015) Papertown by Jake Schreier
112 (2015) Right Now, Wrong Then by Hong Sang-soo
113 (2015) The Beauty Inside by Baik
114 (2015) The Lobster by Yorgos Lanthimos
115 (2016) Manchester by the Sea by Kenneth Lonergan
116 (2017) Bukaan 8 by Angga Dwimas Sasongko
117 (2017) Critical Eleven by Monty Tiwa, Robert Ronny
118 (2017) On the Beach at Night Alone by Hong Sang-soo
119 (2017) The Big Sick by Michael Showalter
120 (2017) The Shape of Water by Guillermo del Toro


Sepuluh Kata Benda atau Nomina yang Sebaiknya Dihapuskan dari Muka Bumi(Sepuluh Terlalu Banyak Tiga Dulu ya, nyicil :-) )


Misalkan kita di pelataran Tiben, berbicara tentang  kata, mendiskusikan satra, perihal frasa yang mesti dilenyapkan dari muka bumi. Apa yang timbul dalam benak asra? Tidak tahu. Biarlah yang kita tahu hanya bahwa esok hanya misteri seperti kata The Rain dan Hidup Mesti Terus Meski Misterius. Tetapi saya tergelitik untuk menulis judul-judul yang seperti di atas. Maka dari itu ketika diri saya bertanya tentang apa sepuluh kata yang harus dihapuskan dari muka bumi saya mencoba mengurai satu persatu, gulungan benang kusut yang silang-sengkarut di antara kita.

Inspirasi

Entah karena saya yang snob akut atau mengalami gejala sinis stadium Wembley, kata inspirasi dengan segala macam derivatnya: inspiratif, inspirator, menginspirasi, dan lain-lain, membuat saya kekal, maaf kesal. Saya yang mengalami masa kecil di SMA jurusan IPA ini cukup terganggu dengan penggunaan sedikit-sedikit inspirasi, sedikit-sedikit inspirasi, inspirasi kok sedikit-sedikit. Ini semacam merusak citra pemahaman dalam benak saya bahwa inspirasi adalah proses memasukkan udara melalui alat-alat pernapasan. Ingat napas dengan p bukan f.

Meskipun demikian, demikain apa? Di tengah kesibukan saya mengabdikan diri sebagai insan akademis ITB demi perkembangan Industri dan ilmu pengetahuan agar supaya menjamin kemaslahatan bangsa dan agama. (Bukan demi kepentingan pribadi yang berkedok kepentingan umum tentu) Saya menyempatkan diri untuk membuka KBBI dari taskbar desktop komputer saya, hasilnya inspirasi berarti ilham. Selayaknya manusia yang tidak pernah puas. Saya melanjutkan dengan mencari apa itu ilham.

Apa itu ilham? Sebelum apa saya akan jelaskan siapa itu Ilham dengan I besar. Ilham adalah nama pemain timnas U-19 yang  sempat menjadi idola saya. Dia biasa dipasang sebagai penyerang sayap kiri atau kanan. Dia mempunyai akselereasi di atas rata-rata pemain AFF U-19 waktu itu. Amat sering ia menyusahkan pemain belakang lawan-lawannya. Ilham kini bermain untuk klub bola Surabaya United. Usianya baru 21 tahun. Ini mungkin ada kaitannya dengan regulasi PSSI soal pemain muda yang wajib ada di kompetisi LIGA GOJEK dan Traveloka ini.

Sedangkan menurut hasil salin-tempel saya dari KBBI ilham itu seperti ini :  il·ham n 1 petunjuk Tuhan yg timbul di hati: ibu Nabi Musa mendapat -- supaya memasukkan anaknya ke dl peti dan menghanyutkannya ke Sungai Nil; 2 pikiran (angan-angan) yg timbul dr hati; bisikan hati; 3 sesuatu yg menggerakkan hati untuk mencipta (mengarang syair, lagu, dsb): di tempat pengasingannyalah ia mendapat -- untuk mencipta lagu-lagu perjuangan;

Saya tidak mengusulkan agar inspirasi diganti dengan kata lain. Agar itu lebih enak dinikmati saja, dimakan di hari yang panas, mencuci mulut yang kotor sehabis banyak berdusta dan melontarkan kata-kata kotor juga. Karena rinso tidak menyediakan itu. Saya terganggu saja, kenapa? Mungkin karena penggunaan itu berefek kepada pendangkalan sistem pencarian manusia akan ide-ide kebenaran-kebenaran kecil dan perangkat pikiran yang subtil lainnya. Inspirasi merupakan bagian dari sistem Respirasi yang terdiri dari pergantian terus menerus insipirasi dan ekspirasi. Menghirup dan mengeluarkan udara.

Wah memang kamu inspiratif sekali ibarat udara yang kuhirup demi melanjutkan kehidupan. Demi memasukkan oksigen ke dalam tubuh untuk proses oksidasi dan metabolisme seperti daur Krebs.

Apresiasi

Apresiasi kalau yang ini mungkin bersinonim dengan pujian. Saya harus mengakui bahwa saya suka pujian. Meskipun saya tahu bahwa pujian bisa berdampak negatif bagi perkembangan orang-orang tertentu. Masih ingat dengan Whiplash? J.K. Simmon yang jadi guru killer itu bilang di film itu bahwa dua kata paling bahaya dalam kosakata Inggris adalah good job. Pujian adalah bahaya. Pujian juga ujian bukan? Nah saya sudah tidak tahu lagi, eh iya meskipun pujian kok malahan ngomongin pujian ya? Bodohnya saya. Apresiasi.

Apresiasi sendiri bagi saya adalah lawan dari depresiasi. Waktu mengambil mata kuliah Proyek Rekayasa Interdisiplin saya memiliki kesan tertentu terhadap kata apresiasi, meskipun sebelumnya apres bagi saya adalah sebuah unit musik pada saat OHU (Open House Unit) sekitar enam tahun lalu. Depresiasi itu adalah penurunan nilai guna suatu barang seiring berjalannya waktu. Baik itu jalan kaki, jalan macet atau jalan berlubang. Tetapi bukan jalan ke surga ya ! Ada namanya koefisien depresiasi. Faktor pengali untuk kejadian depresiasi, besaran untuk menghitung pengurangan nilai guna atau performansi barang itu.

Oke apresiasi adalah kenaikannya, menurut saya. Apresiasi mungkin menaikkan nilai sesuatu. Bukan nilai UTS ya. Karena itu sudah berlalu. Apresiasi menghargai? Mungkin

Tapi kalau Apresiasi adalah menganggap sesuatu lebih penting daripada yang lain? Entahlah !

Tips

Tips yang bahkan tidak ada dalam perangkat lembut KBBI milik saya ini mengingatkan saya kepada tips menulis buku best seller yang amat saya jumpai di dunia maya. Tips yang kemudian dibuatkan novelnya oleh Orang Cerdas bernama Martin Suryajaya: Kiat Sukses Hancur Lebur. Oh iya bahkan kitab suci kabarnya tidak judul bab atau semacamnya yang begini: Tips Masuk Surga atau Kiat Masuk Surga Secepat Kilat. 300.000 km/detik maksudnya.

Tips juga hadir dalam bentuk lain seperti langkah-langkah. Entah mengapa saya skeptis dan cenderung membenci langkah keajaiban rejeki 7 hari menjadi kaya. Mungkin karena diri saya yang sudah sering gagal sehingga menempa diri saya menjadi pesimis. Sehingga apa lagi? Tidak tahu

Tetapi siapa yang tahu cara dunia bekerja. Bukankah yang kebanyakan itu misal saja hanya sedikit yang masuk surga ‘kan? Jikalau memang ingin. Jangan-jangan demokrasi adalah bentuk dari simulasi kebodohan. Bukankah orang awam adalah massa yang mudah terpengaruh? Terombang-ambing tak ada uang. Jangan-jangan yang best-seller best-seller adalah tipuan. Bagaimana halnya dengan keserupaan keseragaman? Di mana posisi sesuatu yang personal, yang partikular.


Saya sebenarnya tidak tahu sedang menulis apa. Tapi ya begitulah namanya juga anak muda, eh mahasiswa boleh salah kan? Demi menjadi penulis besar yang best seller, demi kebaikan kita bersama marilah menghapuskan tiga kata ini saja mudah-mudahan kita menemukan diri kita sendiri. Amin. Tapi tenang saya sebisa mungkin akan berusaha untuk tidak akan menuliskan tips menemukan diri sendiri dalam waktu sepertigapuluh detik !

Hierarki Kepintaran Mahasiswa Menurut Kukuh Samudra

       Manakala berbincang tentang berbagai topik yang tidak jelas, aku menyimak pembicaraan Kukuh mengarah kepada pendapatnya atas situasi dan kondisi mahasiswa di kampus ini. Kukuh melontarkan tesisnya tentang hierarki kepintaran mahasiswa. Rasa saya, terminologi ini sebenarnya tidak berasal dari buku manapun tetapi sedikit ada mirip dengan Hierarki Kebutuhan Maslow. Oke seperti biasa, tanpa memperpanjang mukaddimah. Langsung saja. Ekhhm.

Analisis Struktur dan Semiotik Lirik Lagu ‘Puan Kelana’ karya Silampukau


Tulisan di bawah ini merupakan sedikit percobaan penulis dalam menganalisis sebuah lirik lagu. Sebenarnya metode yang penulis gunakan lebih cocok diaplikasikan pada sebuah teks puisi. Namun begitu, terimasajalah apa adanya. Mohon maaf bila tulisan ini  kurang komprehensif dan terkesan berserak. Memang demikianlah yang sanggup dikerjakan penulis pada kesempatan ini. Mudah-mudahan ada manfaat. Wassalam. 


Komentar Singkat serta Curhat kepada Silampukau


Pertama aku mendengar lagu tentang anak yang main bola dan lapangan mereka yang berubah jadi gedung. Waktu itu di sebuah sekretariat unit baca tulis di kampus ITB Ganesha. Aku penasaran, lagu-lagu yang tidak biasa itu muncul dari laptop Choirul ternyata. Entah kenapa, kembali rasanya aku ke masa kecil di kampung, di pedalaman Sumatera. Sekitar 320 km ke arah utara dari Kota Padang. Sebuah desa kecil anggap saja namanya Ujung Gading. Ya mendengar lagu itu, meskipun lapangan bola kami waktu SD sampai sekarang masih sama, belum berganti gedung. Tetapi tetap saja ada kenangan yang mencoba menyelip dalam bayangan. Bergawang sandal. Uh, indahnya masa kecil.

Buat Kukuh

Buat Kukuh
(Semacam tanggapan mungil atas Untuk Asra)

Tahu bulat sedang terkenal. Di facebook, di seloroh antara percakapan mahasiswa di kampus diselang diskusi filsafat, hidup, mati, seks, dan cinta dan hal-hal esensial di dalam ketiganya : uang. Bahkan kudengar berita dari beberapa kawan, tahu bulat sudah ada juga di Jakarta, di Jogjakarta pun. Tahu bulat sudah menjamur (dengan asumsi tahu bulat berasal dari Bandung, dengan alasan langgam Sunda penyanyinya) mengalahkan jamur krispi di musim hujan.
Aku mengenal tahu bulat ini beberapa tahun yang lalu. Di saat masih euforia diterima di ITB. Kampus yang katanya terbaik. Jujur saja, waktu SMA itu, aku membayangkan, ketika nanti sudah lulus dari ITB, aku akan bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji 60 juta sebulan.

Untuk Asra

UNTUK ASRA
dari Kukuh

Apa gunanya pendidikan jika justru membuatmu semakin terasing dengan rakyat? Apa guna pendidikan jika justru menghasilkan sarjana-sarjana yang korup? Di sisi yang lain, yang memandang pendidikan dari segi positif, telah banyak kita dengar dan banyak kita setujui. Pertanyaan yang saya ajukan, meskipun tidak populer dan bertendens, mungkin tidak dapat dihiraukan begitu saja. Pertanyaan yang pertama mungkin orang banyak mendengar, karena diajukan oleh seorang legenda bangsa, yaitu Tan Malaka.

Tanggapan kepada Apa yang Terjadi dengan LS ?

“Tidak ada manajemen yang bisa memuaskan semua orang”-Kepsek SMA saya mengutip seseorang yang saya lupa namanya-

Ya mungkin semacam apologi atas apa yang LS kerjakan sekarang. Akan tetapi hal itu tentu bisa kita pahami dengan lebih mendalam. Memang tidak ada sistem yang sempurna, tetapi itu tidak boleh menjadi excuse atas kemalasan kita, atau sebutlah kelalaian kita dalam menempuh kehidupan berorganisasi ini.
Terima kasih sebelumnya kepada Kukuh yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkan LS dan segenap anggota dan pengurusnya. Ada benarnya bahwa barangkali LS kini lalai dan semacamnya.

Menanggapi komentar Kukuh bahwasanya :

Apa yang terjadi dengan LS ?

Apa yang terjadi dengan LS ?
Oleh : Kukuh Samudra

Sejarah perkembangan sastra di ITB mungkin panjang. ITB bahkan memiliki unik sastra sejak tahun 70-an, lebih tua dibandingkan dengan UPI (yang dahulu masih berupa IKIP) yang menurut pengakuan salah seorang sumber terpercaya baru memiliki unit sastra beberapa tahun setelah ITB. Unit sastra yang dimiliki oleh ITB ini bernama GAS (Gabungan Anak Sastra) yang telah melahirkan nama-nama alumni seperti Nirwan Dewanto, Acep Zamzam Noor, dan Kurnia Effendi.

Ketika Aku Hendak Berhenti Bertanya

Aku ingin berhenti bertanya. Akan tetapi kenapa tidak kunjung juga bisa? Baiklah kali ini inginku bertanya kepada Bung Karno. Tentang menggantungkan cita-cita setinggi langit dengan tujuan pragmatik hipokrit sefti. Jika pun terjatuh kau setidaknya masih tersangkut di antara bintang-bintang. Akan tetapi tahu ‘kan ? Betapa panas itu bintang-bintang ? Alangkah pendaratan di sana akan menimbulkan penyesalan yang mendalam ?

Hakikat Perbedaan dll.






Hakikat Perbedaan dan Status-status Line berupa Racauan Sekilas yang Lain serta Pembelaan Ringkas Tak Jelas

    1.      Terkadang hal-hal yang kita anggap normal itu menurut orang lain biasa saja.

Aku dibilang ikut aliran Cak Lontong ketika mengetik ini di status sosial mediaku. Satu pertanyaan pertama adalah : Apa artinya menjadi pengikut aliran tertentu pada tahun 2016 ini? Tidak tahu. Yang hampir jelas mungkin menjadi pengikut aliran kini menurutku sudah tidak relevan, yang ada ialah pengalur aliran. Menjadi pengikut barangkali menjadi budak semacam kerbau yang dicucuk hidungnya, sementara lebih sukaku menjadi orang bebal yang terus bertanya tentang nilai-nilai yang sudah mapan dan kompak. Apa sih? Tidak tahu.

Malin Kundang 2016

Malin Kundang 2016

Mudik adalah pulang kampung. Artinya orang-orang yang pergi merantau baik karena mencari uang, mencari ilmu yang nanti dipergunakan untuk mencari uang, mencari uang untuk menimbun kekayaan, namun akhirnya menemukan kehidupan yang melampaui soal uang. Atau apapun sinonim menyongsong kehidupan di masa yang akan datang. Kembali sejenak barang beberapa hari ke daerah tempat orang tua atau tanah kelahiran dan air bertumbuh.

Menjilat air liur sendiri Mendingan daripada tersedak air liur sendiri

Menjilat air liur sendiri
Mendingan daripada tersedak air liur sendiri
(Hana Azalia, Mei 2016)


Dian Sastro Mungkin Penjelmaan Sepeda Kumbang

D i a n S a s t r o mungkin penjelmaan S e p e d a K u m b a n g


Setelah beberapa kali berselancar di google.com, aku akhirnya menemukan alasan yang mungkin dari segala kemungkinan yang mungkin untuk Dian Sastro adalah penjelman sepeda kumbangnya Nad. Tulisan ini dikhususkan untuk dia, Nadira. Rektor Tiben yang baru. Baiklah untuk tidak memperpanjang mukadimah. Kita persilakan tulisan ini untuk bicara sendiri.

“Menyimak status facebook beliau memang cukup menarik, bukan karena curhat a la anak mami yang pengin bunuh diri gegara Aliando putus dengan Prily, tidak. Bukan pula gegara negara yang menyita buku-buku yang katanya berbau kiri (cacat logika yang tak terampuni) Sebagai berita, agaknya kurang tepat menyebut ada buku yang berbau kiri. Kecuali memang itu adalah teks puitik yang sah menggunakan licentia poetica, dengan sintaksis impresionistik. Ah. Cukuplah.

Fisika dan Sartre serta Pintu Tertutup

Ngomong-ngomong Aku punya semacam perihal yang Aku ungkap. Sebut saja ini sebuah pengakuan ataupun pengungkapan. Sartre, sama halnya seperti Fisika Aku tertarik mengenalinya lebih lanjut bukan karena apa yang ditawarkan olehnya. Bukan karena apa isi Sartre dan Fisika. Maaf sudah membuat anda bingung. Aku akan mencoba menjelaskan lagi, mudah-mudahan anda dapat menemukan sesuatu.

Fisika. Kalau tidak salah ingat Aku melihat gabungan fonem-fonem ini paling berkesan ketika SMP. Dari sebuah kover buku teks pelajaran fisika. Di situ tertulis FISIKA. Dengan jenis huruf yang gagah, untuk kelas VII Sekolah Menengah Pertama. Kalau tidak salah penulis bukunya adalah Marthen Kanginan terbitan Erlangga. Selain tertarik kepada bentuk huruf yang tertera tersebut. Ketika Aku mengucapkan Fisika. Pada mulut Aku terjadi semacam kenikmatan kala mengucapkannya. Dimulai dengan gesekan bibir bawah dengan gigi cermin sebelah atas lalu dilanjutkan dengan lidah mendesis dan diakhiri dengan pangkal lidah yang menyentak tenggorokan dalam sekaligus rongga mulut yang membuka. Ya Fisika. Lalu kemudian tertariklah Aku mempelajarinya.

Sebuah Komentar atas Puisi Senartogok yang saya di tag-nya

(Belum diberi Judul)
Aku melihat jam di dinding jiwa
Sudah pukul 27 rupanya
Sebentar lagi senja, tetiba...
Menyeruak perasaan resah 
Sekaligus bahagia, 
Bahkan di antara 
Ataupun diluar keduanya:
Aku lega!

Sore ini aku ingin sedikit bercerita tentang puisi seorang senior. Apapula yang dapat kuceritakan lagi selain yang aku ingin? Daripada menceritakan peluncuran buku puisi “Renjana” Yansa El-Qarni kemarin (13/04/2016) di Salman kemarin, yang sejujurnya kuhadiri cuma sebab cemilan yang gratis.

Suatu malam sebut saja namanya Senartogok, nama samaran seniman muda nan pantang berpantang ini, kami membicarakan puisi. Ia mengakui telah berada puncak kepenyairannya, sebuah pengungkapan yang demikian optimis bukan? Ya. Memang begitu adanya. Sedikit mengomentari bolehlah ya. Maaf tidak minta izin penyairnya dulu. Eh siapa pula yang bilang harus minta izin? Emangnya kayak bikin diskusi di Sunken? Insyaallah tulisan ini juga tidak bisa dibubarkan pihak kampus. Bagaimana coba membubarkan tulisan? Membubarkan ide dan gagasan apalagi. Ada-ada saja.


Puisi Senartogok ini pendek adanya. Bisa dibaca sekali duduk, bahkan senapas pun bisa(Aku tidak tahu tentang boleh atau tidaknya puisi ini dibaca dalam satu tarikan napas, sama tidak tahunya dengan hukum ketika Imam membaca Al-Fatihah dalam solat berjamaah dengan satu napas). Namun untuk membuatnya ya, aku yakin dia sudah menghabiskan 27 tahun masa napasnya di bumi yang fana ini untuk bisa menuliskannya. Lalu apa? Hmmm. Tidak tahu.

Baris pertama ia buka dengan sebuah kejadian yang berbau sureal. Sang Aku melihat jam di dinding jiwa. Ya begitulah puisi engkau bisa menuliskan dinding jiwa, tidak mesti selalu dinding kamar bukan? Awalnya pada percakapan kami sebenarnya beliau mengucapkan aku melihat jam berdentang di dinding jiwa. Alamak. Tentu lebih wah lagi, setidaknya ada dua bau di sini : melihat jam berdentang adalah sebuah kegiatan yang bagaimana ya? Impresionistik mungkin? Di dinding jiwa? Surealistik. Tetapi untuk lebih memadatkan barangkali Senartogok memangkas kata berdentang. Lebih intim dan langsung kepada soal. Aku melihat jam di dinding jiwa. Kemudian dilanjutkan sudah pukul 27 rupanya. Sebenarnya aku bependapat bahwa “rupanya” itu dapat diganti menjadi “ternyata” sebagai ungkapan bahwa si Aku itu baru saja sadar, setelah sebelumnya tidak. Akan tetapi, memang kalau boleh berasumsi dan berspekulasi, “rupanya” ini adalah menunjukkan setidaknya dua asosiasi yaitu : unsur bentuk dan unsur perasaan “baru sadar” tersebut. Di sini aku termenung sejenak. Tidak sepenuhnya salah, bahwa ia telah pada puncak kepenyairannya.

Lalu dengan pukul 27, memang aku yang tahu usia beliau jelas menangkap bahwa 27 ini tidak lain tidak bukan adalah usia beliau sendiri. Waktu yang menunjukkan angka 1-12 itu ia dobrak menjadi 27. Ini artinya jam dinding jiwa sang aku itu tak mengenal bataskah? Mungkin. Sebentar lagi senja, tetiba... . Kemudian “Aku” kembali mengingat waktunya kini, waktu yang ia hayati, ia kemudian mulai berpikir bahwa sebentar lagi senja (akan turun). Apa artinya senja turun bagi seorang Aku yang 27 ini? Sabar, pada larik selanjutnya Aku mengurai itu. Menyeruak perasaan resah, ya itu semacam kecemasan (angst) yang menderu Aku.

Namun jangan kecewa dulu, dalam suasana ini bukan cuma kecemasan itu yang hadir, tetapi serentak juga bahagia. Sekaligus bahagia ya,aku resah sekaligus bahagia. Eksistensi kehadiran beliau, merasa resah atas yang belum terjadi dan bahagia atas yang telah terjadi, begitu kalau kutilik dari aspek temporal Aku. (Sebagai tambahan pernah juga terlontar dari Senartogok bahwa kawan-kawan seumurannya sudah berkeluarga, sudah punya anak). Nah yang lebih mengejutkan lagi pada tiga larik terakhir
Bahkan di antara 
Ataupun diluar keduanya:
Aku lega!

Subhanallah, Sang “Aku” bukan pada kedua kehadiran resah dan bahagia itu, Sang“Aku” lepas,melompat, “Aku” melintas ke dimensi lain, sebut saja begitu. Aku lega ! ya tahukah kau apa itu lega? Memang Senartogok sedang berada di puncak kepenyairannya.

Bonus : (Gampang sebenarnya jika kau ingin seperti mereka, tinggal meninggalkan kolase, puisi, lagu, dan sepercik kebebasan ini, lalu ya bagian tersulit memang menceraikan kebenaran itu),

Bolehlah kusitir sekelumit tuturan Nietzsche : Barangsiapa yang ingin kebahagiaaan, maka percayalah ! Barangsiapa yang ingin kebenaran, maka carilah !


Tiga Mimpi

3 hari terakhir aku punya 3 buah mimpi, ah tidak...tidak.. 3 mimpi, yang membuat aku sedikit merenung. Sehabis mendapat ceramah dari sesosok senior, sebut saja seniortogok (mohon maaf memplesetkan namamu, semoga nanti tidak ada ormas yang memukuli aku perihal ini). Ia berceramah tentang Nietzsche. Ini posternya (ceramah pakai poster segala, ya dong, inilah pekerjaan mereka yang lebih dari sekadar pekerjaan).

Siapa Menang Siap Kalah

Siapa Menang Siap kalah

dan Menerima Kekalahan

Dijual : Satu Tiket ke Surga II

Kebiasaanku tiap hari. Mengecek Timeline. Entah itu facebook, twitter, atau LINE. Lini masa, terjemahan bakunya. Garis waktu. Ya semacam itu. Intinya ini adalah suatu bagian dalam situs online yang di sana aku menemukan orang-orang tengah memproyeksikan dirinya. Mulai dari sekadar curhat, mengeshare berita, berdebat, mengupload foto, berjualan, sampai bertengtar. Ada juga yang timeline-nya berisi game tes kepribadian online. Biasanya Facebook adalah ladang subur bagi tumbuhnya berita hoax(bohong). Foto-foto mengenaskan dan gosip artis. Kalau twitter itu biasanya apa? Saya lupa, sebab tidak selalu ingat. Haha. Yang jelas, twitter adalah tempatnya aktivis dan pelaku hashtag atau tanda pagar berpesta. Sedang LINE adalah bagian kecil, yang mulai seperti facebook dan twitter. Mungkin ini tidak terjadi padamu. Tetapi jelas, terjadi padaku. Kalau LINE mungkin gegara friend-nya cuma seribu jadi tidak terlalu variatif macam facebook dan twitter.

Salat Boleh di Langgar

Salat boleh di langgar.

Sekilas tentu ini akan menimbulkan cap sesat plus stempel kafir. Tetapi jika disimak lebih lanjut, kalimat ini ada benarnya. Setidaknya menurut KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kesalahan pembaca mayoritas adalah ketidaktahuan tentang hubungan makna gabungan kata. Dilanggar tentu berbeda dengan di langgar.


Yang pertama berarti tidak dilakukan, yang kedua berarti di surau kecil. Ya surau kecil itu adalah langgar, langgar itu artinya tempat solat, musola dalam KBBI. Pembacaan di langgar dan dilanggar bisa seberbahaya itu. Tidak juga. Hehe. Jika kalimat itu diucapkan? Hati-hati saja jangan sampai mengucapkannya di dekat orang-orang yang siap membunuh atas nama agama. Nyawamu taruhannya.