Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Terjemahan Haiku Matsuo Basho

MUSIM SEMI 1684-87
dentang lonceng lindap
wangi bunga mekar berdenting
di pagi hening


Pengin Punya Satu

Ingin sekali menghilangkan malu
dalam diriku, memeluk rimbun
rambutmu seperti pohon
beringin itu. Lalu berlarian
di sekitar ponimu : pagar
taman kanak-kanakmu.

Ingin sekali melepaskan ragu
lantas melangkah yakin ke arahmu
menyuapimu dengan bekal makan
siang dari ibu.

Kau suka telur dadar?
Atau roti selai sarikaya?

Ingin sekali bernyanyi di
depan kelas denganmu.

Ingin sekali seperti besi berani itu.
Kadang-kadang kamu magnetnya
kadang-kadang aku,
kadang-kadang kamu pasirnya
kadang-kadang aku.
Tidak pernah bercerai karena magnet dan pasir selalu lengket.

Ingin sekali selalu bersamamu
berjalan berdua ke mana pergi

Ingin sekali memencet hidungmu
tombol nyala keriangan lincahmu

Ingin sekali selalu denganmu
bermain, belajar, menulis, membaca,
sarapan dan nonton tv hari minggu,
juga mandi hujan sore-sore, tidak perlu
takut dimarah ibu.

Ingin sekali bermimpi denganmu.
Di mimpi sama dengan ketika bangun.
Mimpi dan bangun sama-sama senang.

Ingin sekali nanti kakek-nenek denganmu
Sampai menyeberang jembatan
dari rambut dibelah tujuh itu.

Ingin sekali aku menghilangkan rasa
ingin memilikimu. Kini


Bandung, 2017

Menunggu Hujan Reda




Selepas kenyang makan nasi goreng ikan asin
Kita akan langkahkan kaki ke penjuru malam
Sambil menanyakan apa lagi yang akan kita habiskan
Segelas kopi tubruk pangalengan atau kentang goreng setengah matang?
Ini hujan sudah tidak rintih-rintih
Marilah pulang menuju dipan
Lantas menyetel lagu lucu masa kecil
Kala kita masih berparas lugu
Juga cerita-cerita sebelum tidur
Membawa kita ke lain dunia

Mudah-mudahan esok nanti waktu kita bangun pagi
Kita bangun lagi kesepian di antara gugur hujan
Kita mesti selesaikan langkah kaki ini
di tengah kata-kata berserakan
diguyur hujan malam-malam
di atas kertas yang hitam-kelam

Dengan demikian damai dan tenang
datang di hadapan diri yang dingin
dan diguyur lupa-melupakan


Kita cuma menunggu hujan reda
Sembari tak rela kehilangan hangat yang telanjur ada?


Bandung, 2017

Malam Minggu yang Ditunggu

Datang seperti tangan ingin
bergandeng, bulan putih
di langit malam cerah
malu-malu menyerahkan wajah
indahnya bagi seluruh pemilik
rindu paling dingin
di sebalik awan
yang sudah terlalu lama
sembunyikan rasa saling
mengirimkan seulas senyum
terbagus selama ini.


PEMUDA DALAM KESUKARAN DALAM TIGA BAGIAN

(Bersama Kukuh Samudra)

Bagian Pertama

Pada taman kehidupan
ada sosok susah payah
menyongsong sesak hari depan
dihirupnya aroma melati
yang seluruh kelopaknya luka
dipandanginya bugenvil dan alamanda
lama-lama ia diam
diam dalam kepayahan
diam dalam permenungan


9 Haiku Matsuo Basho

1
Kemelut laut
sampai ke Sado
bentang bimasakti

2
Kolam tua
katak meloncat
air kecipak

3
Kilatan petir
memintas gelap
bangau teriak

4
Di tangkai layu
bertengger gagak
malam musim gugur

5
Ini jalan
tanpa seorang
malam musim gugur

6
Rumput musim bunga
tersisa hanya
mimpi ksatria

7
Keheningan
tenggelam ke batu
jangkrik meratap

8
Sakit di perjalanan
mimpiku berkelana
atas gersang padang

9
Gurita terjerat
mimpi lekas lenyap
bulan musim semi